Meet & Greet “Koala Kumal”

11
25

Ternyata tidak sulit mencari tahu siapa itu Raditya Dika. Dan menurut halaman wiki, total novel karangannya sudah mencapai tujuh judul.
— (by Dodi Nurdjaja on rebon.org) —

Meet & Greet Raditya Dika
Penulis Novel Koala Kumal

Akhirnya saya dan rekan blogger saya, Aguz Nuril, terdampar di dekat Gunung Agung, Grage City Mall, lantai 2. Saat itu tengah diadakan acara “Meet & Greet Raditya Dika”.

Awalnya saya tahu acara ini, melalui info dari grup facebook BRID (Blogger Reporter Indonesia). Lalu gambar info itu saya copas dan saya tandai untuk waktu kunjungan ke Cirebon.

meet-greet-0

Di lantai 2 ini, antrian begitu padat. Semuanya antri untuk bisa minta tanda tangan di novel “Koala Kumal” oleh pengarangnya dan sekaligus foto bareng. Saya memang butuh foto bareng, untuk diposting di artikel, tapi saya tak mungkin ikut antri bareng mereka yang juga butuh tanda tangannya. Toh saya cuma mau lihat acaranya saja, untuk ditulis. Sekedar untuk reportase, sambil agak narsis sedikit. 😀

meet-greet-1

Segera saya dekati seorang panitia yang bertugas menjaga antrian. Saya bertanya, siapa panitia yang bisa saya ajak ngobrol. Dia bertanya, dari mana saya berasal. Saya bilang saya blogger, mau meliput untuk tulisan di blog. Dia melirik ke sana ke mari sebentar lalu menunjuk seseorang. Saya langsung permisi dan mendekati orang yang dimaksud.

meet-greet-2

Namanya adalah Ahmad Baihaqie, itu saya tahu dari kartu nama yang dia kasih. Ahmad ini dari gagasmedia, penerbit buku novel Koala Kumal.

meet-greet-3
foto by Aguz Nuril

Menurut Ahmad, buku Koala Kumal ini sudah disiapkan/ditulis selama 3 tahun lebih. Sementara acara “Meet & Greet” ini sendiri, menyita waktu persiapan selama 3 bulan. Persiapan itu lebih dititikberatkan pada pencarian tempat untuk acara. Dan untuk di Cirebon, di Gunung Agung, Grage City Mall lantai 2 inilah tempat yang didapat.

Ahmad, dalam kepanitiaan, adalah PIC (person in charge) dari seluruh acara dan sekaligus sebagai bagian dari tim promosi.

Khusus di Cirebon, sebelum acara “Meet & Greet” ini, didahului dengan konferensi pers. Wah, sayang saya telat datang. Atau tepatnya, tak tahu kalau ada acara konferensi pers. Tapi menurut Ahmad, itu memang disesuaikan kondisi fisik Raditya Dika sendiri. Karena sebelumnya pun ada rencana talk show di salah satu Radio di Cirebon, tapi akhirnya dibatalkan karena kondisi fisik Raditya Dika tak memungkinkan untuk itu.

Sebenarnya, Raditya Dika telah datang dan menginap untuk sekedar istirahat. Namun saat istirahat tidak bisa diganggu dengan kehadiran media yang mau wawancara. Hal ini Demi menjaga kondisi fisik Raditya Dika agar tetap bisa fit saat acara “Meet & Greet”. Dan harus kembali ke Jakarta hari itu, seusai acara “Meet & Greet”, dan sekedar istirahat sejenak.

Kemudian sekonyong-konyong Ahmad minta diri. Rupanya, batas antrian sudah harus ditutup. Saat itu sudah jam 15.40. Ketika kemudian sempat saya tanyakan, berapa jumlah antrian sampai batas ditutup. Ahmad menjawab bukan dari banyaknya, tetapi dari perkiraan panjangnya agar bisa selesai acara tidak lewat dari jam 17.00.

Ah, seharusnya, kan bisa diperkirakan jumlahnya. Cuma sekedar perhitungan total waktu dibagi lamanya foto dan tanda tangan untuk 3 orang sekaligus. Dari jam 15.00 sampai jam 17.00, berarti 2 jam, atau 120 menit. Tanda tangan dan foto misalnya 2 menit untuk 3 orang. Jadi (120/2) x 3 orang = 180 orang. Kalau foto dan tanda tangan bisa dipercepat, bisa lebih banyak orang lagi. Yah, mungkin mereka tak perlu ambil pusing urusan rumus hitung. 😀

Saya, kemudian berputar-putar sebentar, mencoba mencari celah untuk bisa memotret Raditya Dika dari kejauhan. Tapi memang sulit dengan banyaknya orang di sekitar tempat itu.

meet-greet-4

Lalu saya masuk ke Gunung Agung, dan bertanya-tanya ke seorang petugas (atau pelayan). Ya sekedar bertanya (atau wawancara).

Keluar dari Gunung Agung, saya berbincang lagi sebentar dengan Ahmad Baihaqie. Sekedar memastikan kembali, saya akan mendapat kiriman press release via email. Dan ngobrol tentang jaringan penerbit yang menjadi panitia acara ini.

Dan kami akhirnya berniat pulang. Namun sayang, terhalang hujan. Yah sambil nunggu hujan reda, kami ngopi-ngopi dulu.

Koala Kumal adalah novel karangan Raditya Dika. Siapa sih Raditya Dika itu?

Raditya Dika (lahir di Jakarta, 28 Desember 1984), akrab dipanggil Radith, adalah seorang penulis asal Indonesia. Di Indonesia, Raditya Dika dikenal sebagai penulis buku-buku jenaka. Tulisan-tulisan itu berasal dari blog pribadinya yang kemudian dibukukan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Raditya_Dika

Ternyata tidak sulit mencari tahu siapa itu Raditya Dika. Dan menurut halaman wiki, total novel karangannya sudah mencapai tujuh judul. Ketujuh judul itu adalah
1. Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh – 2005
2. Cinta Brontosaurus – 2006
3. Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa – 2007
4. Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang – 2008
5. Marmut Merah Jambu – 2010
6. Manusia Setengah Salmon – 2011
7. Koala Kumal – 2015

Yang menarik adalah, novel-novel karangannya ini merupakan catatan hariannya di blog pribadinya saat ia menang dalam Indonesian Blog Award. Gagasmedia adalah satu-satunya penerbit yang mau menerima naskah itu.

Semua judul novelnya, mengandung nama binatang. Lalu apa hubungannya dengan pemaparannya yang diangkat dari catatan hariannya?

Ternyata judul itu cuma analogi. Rupanya cara logika dan analisisnya menggunakan logika dan analisis pantun juga. Judulnya menjadi kesimpulan berupa analogi (isi) atas pemaparan panjang di dalam novelnya (sampiran). Lihat logika pantun pada http://dodi-nurdjaja.blogspot.com/2012/12/yahooanswers-diplomasi-1.html dan https://www.rebon.org/2015/02/pantun-ujung-tombak-wisata.html .

Mengapa mengambil judul “Koala Kumal”? Alasannya bisa kita lihat di http://radityadika.com/tentang-koala-kumal

meet-greet-5

Ini adalah koala yang ada di New South Wales, Australia, yang pulang kembali ke rumahnya (hutan) setelah rumahnya ditebangi. Ketika dia pulang dia kaget menemukan rumahnya menjadi tidak sama lagi. Dia tahu ini adalah rumahnya, tapi sekarang terasa asing untuk dia..

Nah, buku Koala Kumal adalah soal tempat nyaman yang ketika kita tinggalkan, lalu kembali lagi.. kok tempatnya jadi beda. Cerita-cerita di dalam buku tersebut rata-rata adalah soal itu. Ada tentang gue waktu SD berteman, tapi ternyata temen-temen gue kok lama-lama jadi gak sama lagi. Ada soal  ketemu mantan, tapi kok dia sekarang jadi orang yang berbeda. Ada tentang bagaimana patah hati yang terhebat bisa membuat kita sendiri yang jadi gak sama lagi. Total ada belasan cerita dalam buku ini. Walaupun temanya terdengar serius, tapi seperti buku, film, dan karya gue sebelumnya, buku Koala Kumal tetap komedi. Istilah gue, komedi pake hati.

meet-greet-6

Kalau dari analoginya, mengingatkan saya kepada film “Billy Madison” [1995], yang diperankan oleh Adam Sandler. Dalam suatu konflik, Billy harus menjalani lagi masa sekolah sejak TK sampai Perguruan Tinggi, secara kilat. Dalam film itu, Billy akhirnya melihat metafora dari metamorfosis Dongeng Anak Anjing (saat mengulang TK) ke pemahaman Sejarah Revolusi Industri (saat mengulang Perguruan Tinggi). Jadi Dongeng Anak Anjing sebagai analogi pemahaman Sejarah Revolusi Industri.

Bagi saya pribadi, ada saatnya kita memahami kedewasaan kita saat kita terbawa kembali ke ingatan masa kecil kita. Kita bisa menarik benang merah, apa-apa yang yang menjadi pemahaman dan impian saat kita kecil, dan membandingkan dengan pemahaman dan kondisi kedewasaan kita saat ini. Hampir mirip dengan film kartun “Up” [2009]. Haruskah kita menunggu sampai masa tua, untuk mewujudkan impian masa kecil kita?

Semoga dapat direnungkan
==========

Sampai saat saya tuliskan ini, saya belum mendapatkan press release yang dijanjikan via email. Kelak jika press release itu sudah saya dapatkan, akan saya sambungkan di bawah tulisan ini sebagai Update.

=====

Koala Kumal

=====

11 COMMENTS

  1. Ya semoga saja dapat press release ya bang, terkhusus untuk Komunitas Blogger Cirebon. Syukur-syukur Raditya Dika mau main lagi ke Cirebon, apalagi kalau sampe ikut diskusi bareng kita Rebon.Org.. 😀

  2. itu mah udah lama nontonnya 😀
    ya… kalimat "Haruskah kita menunggu sampai masa tua untuk mewujudkan impian masa kecil kita?" memang sangat menohok ulu hati. tapi bukankah hidup ini hanya permainan dalam impian belaka? lha mewujudkannya kapan dan bagaimana?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here